Jangan Merasa Dirimu yang Paling Benar

Merasa diri paling benar adalah penyakit hati yang halus namun berbahaya. Ia menjadikan seseorang tertutup dari kebenaran yang datang dari orang lain dan enggan menerima nasihat. Padahal dalam Islam, kebenaran adalah milik Allah semata, dan manusia hanyalah pencari kebenaran yang terbatas akalnya. Allah ﷻ berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini menjadi tamparan halus bahwa memuji dan membenarkan diri sendiri adalah bentuk kesombongan yang terselubung. Orang yang rendah hati akan lebih sibuk memperbaiki diri ketimbang mengklaim kebenaran mutlak pada pendapat atau tindakannya.

Rasulullah ﷺ, yang maksum dan tidak mungkin salah, justru menunjukkan ketawadhuan yang luar biasa dalam berdiskusi dan bermusyawarah. Dalam satu hadis beliau bersabda:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ
"Sesungguhnya aku hanyalah manusia. Kalian berselisih di hadapanku, dan mungkin sebagian dari kalian lebih fasih menyampaikan argumennya daripada yang lain, lalu aku memutuskan sesuai dengan apa yang aku dengar darinya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasul pun mengakui keterbatasan sisi lahiriah dan manusiawi dalam mengadili urusan, serta tidak memonopoli kebenaran. Ini menjadi teladan luar biasa bagi kita agar tidak bersikap fanatik terhadap pemikiran atau kelompok sendiri.

Merasa paling benar juga dapat melahirkan perpecahan, karena ia menutup pintu dialog dan membenarkan penyimpangan atas nama kebenaran. Allah ﷻ mengingatkan:
كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
"Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka." (QS. Al-Mu’minūn: 53)
Sikap seperti ini adalah akar dari pertikaian yang panjang. Maka, sikap terbaik adalah tawadhu’, terbuka terhadap perbedaan yang dibenarkan oleh syariat, serta terus belajar tanpa merasa telah cukup tahu. Sebab, ilmu bukan untuk merasa tinggi, tapi untuk semakin sadar bahwa kita ini lemah dan butuh hidayah-Nya.