kebaikan dan keburukan manusia
Manusia sebagai hamba Allah yang paling sempurna dan paling lengkap dalam penciptaannya itu bisa menjadi hamba yang baik dan bisa menjadi hamba yang buruk tergantung bagaimana manusia itu bersikap dan bertingkah laku kepada Tuhan dan kepada sesama manusia serta kepada seluruh makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Memang benar bahwa kebaikan dan keburukan hanyalah suatu penilaian, namun penilaian itu harus berdasarkan pemahaman dan wawasan yang cukup. pemahaman tentang kebaikan dan keburukan pada dasarnya muncul dan lahir dari diri manusia itu sendiri. Seorang manusia akan menilai baik pada sesuatu jika sesuatu itu dinilai dapat menimbulkan kenyamanan dan ketentraman kepada hati dan jiwanya, penilaian tersebut dapat muncul ketika seorang manusia bereaksi terhadap suatu peristiwa dan ketika reaksi tersebut memunculkan perasaan yang nyaman maka manusia itu akan menilai bahwa sesuatu itu adalah baik, namun jika peristiwa yang terjadi tersebut menimbulkan reaksi perasaan yang tidak nyaman di dalam hatinya maka manusia itu akan menilai bahwa sesuatu itu adalah buruk.
ini adalah kebenaran dasar dan universal dari kebaikan dan keburukan dari perspektif manusia. dalam perjalanannya penilaian ini terkadang terpengaruh oleh emosi dan perasaan yang muncul dari manusia itu sendiri. emosi dan perasaan ini sangat dipengaruhi oleh hubungan dan interaksi antar sesama manusia, sehingga bisa jadi suatu peristiwa sebenarnya dinilai baik namun karena adanya pengaruh emosi dan perasaan maka kebaikan dari peristiwa itu bisa dikaburkan dan bahkan bisa jatuh menjadi dinilai jelek. Demikian pula suatu peristiwa yang jelek terkadang karena suatu hubungan emosi dan perasaan yang baik antara orang yang melakukan perbuatan itu dan orang yang menilai maka perbuatan jelek tersebut menjadi tidak begitu jelek atau bahkan berubah menjadi suatu kebaikan yang didasarkan pada alasan-alasan yang bisa membenarkan.
Di sinilah suatu keadilan diperlukan di dalam memutuskan sesuatu, dan rasa keadilan ini hanya bisa muncul ketika hati seseorang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan yang ideal serta pemahaman agama yang cukup. karena pada dasarnya keadilan itu muncul dari hati nurani yang bisa dipicu oleh ilmu pengetahuan serta pemahaman agama yang memang bersumber dari kebenaran yang mutlak dan absolut.